Minimal Design

Lorem Ipsum is simply dummy text of the printing and typesetting industry. Lorem Ipsum has been the industry's standard dummy text ever since the 1500s, when an unknown printer took a galley of type and scrambled it ...

Easy to use theme’s admin panel

Lorem Ipsum is simply dummy text of the printing and typesetting industry. Lorem Ipsum has been the industry's standard dummy text ever since the 1500s, when an unknown printer took a galley of type and scrambled it ...

Featured posts

Lorem Ipsum is simply dummy text of the printing and typesetting industry. Lorem Ipsum has been the industry's standard dummy text ever since the 1500s, when an unknown printer took a galley of type and scrambled it ...

Hello, I am Vk bhardwaj and i do awsome Blogger Template Designs for your blog, download templates at Www.BestTheme.Net. Thanks A Lot

Archive for Agustus 2010

FILSAFAT PENDIDIKAN PROGRESIVISME


1.      Strategi Progresif
Filsafat progresif berpendapat bahwa pengetahuan yang benar pada masa kini mungkin tidak benar dimasa mendatang. Karenanya, cara terbaik mempersiapkan para siswa untuk suatu masa depan yang tidak diketahui adalah membekali mereka dengan strategi-strategi pemecahan masalah yang memmungkinkan mereka mengatasi tantangan-tantangan baru dalam kehidupan dan untuk menemukan kebenaran-kebenaran yang relevan pada saat ini. Melalui analisis diri dan refleksi yang berkelanjutan, indifidu dapat mengidentifikasi nilai-nilai yang tepat dalam waktu yang dekat.
Orang-orang progresif merasa bahwa kehidupan itu berkembang dalam suatu arah positif. Para pendidik yang memiliki suatu orientasi progresif memberi kepada para siswa sejumlah kebebasan dalam menentukan pengalaman-pengalaman sekolah mereka. Sekalipun demikian, pendidikan progresif tidak berarti bahwa para guru tidak memberi struktur atau para siswa bebas melaksanakan apapun yang mereka inginkan. Guru-guru progresif memulai dengan posisi dimana keberadaan siswa dan melalui interaksi keseharian dikelas, mengarahkan siswa untuk melihat bahwa mata pelajaran yang akan dipelajari dapat meningkatkan kehidupan mereka.
Peran guru dalam suatu kelas yang berorientasi secara progresif adalah fungsi sebagai seorang pembimbing atau orang yang menjadi sumber, yang pada intinya memiliki tangung jawab untuk memfasilitasi pembelajaran siswa. Guru progresif berusaha untuk memberi siswa pengalaman-pengalaman yang mereplikasi tau meniru kehidupan keseharian sebanyak mungkin. Para siswa diberi banyak kesempatan untuk bekerja secara kooperatif didalam kelompok, seringkali pemecahan masalah yang dipandang penting oleh kelompok itu, bukan oleh guru.

2.      Pendidikan
Progresivisme didasarkan pada keyakinan bahwa pendidikan harus berpusat pada anak bukannya memfokuskan pada guru atau bidang muatan. Tulisan-tulisan John Dewey pada tahun 1920-an dan 1950-an berkontribusi cukup besar pada penyebaran gagasan-gagasan progresif. Progresivisme pengikut Dewey didasarkan pada keenam asumsi berikut ini:
a.       Muatan kurikulum harus diperoleh dari minat-minat siswa bukannya dari disiplin-disiplin akademik.
b.      Pengajaran dikatakan efektif jika mempertimbanghkan anak secara menyeluruh dan minat-minat serta kebutuhan-kebutuhannya dalam hubungannya dengan bidang-bidang kognitif, afektif, dan psikomotor.
c.       Pembelajaran pada pokoknya aktif, bukannya pasif. Pengajar/guru yang efektif memberi siswa pengalaman-pengalaman yang memungkinkan mereka belajar dengan melakukan kegiatan.
d.      Tujuan dari pendidikan adalah mengajar para siswa berfikir secara rasional sehingga mereka menjadi cerdas, yang memebri kontribusi pada anggota masyarakat.
e.       Disekolah, para siswa mempelajari nilai-nilai personal dan juga nilai-nilai sosial.
f.       Umat manusisa ada dalam suatu keadaan yang berubah secara konstan, dan pendidikan memungkinkan masa depan yang lebih baik dibandingkan dengan masa lalu.
Rousseau, seorang ahli filsafat Perancis, mendasari pemikiran-pemikiran pendidikannya dengan ucapannya yang terkenal, yaitu: “ Everything is good as it comes from the hands of the Author of Nature, but everything degenerates in the hand of man” (Henderson, 1959: 30). Jadi segala sesuatu, termasuk anak, dilahirkan adalah baik berasal dari pencipta alam, namun semuanya itu mengalami degenerasi, penyusustan martabat, dan nilai-nilai kemanusiaanya karena tangan-tangan manusisa. Manusia memiliki kebebasan bertindak. Barang siapa mengingkari kebebasan seseorang, berarti mengingkari kualitasnya sebagai manusia, menyangkal hak, dan kewajiban kemanusiaan. Karena hal itu smeua bertentangan dengan hakikat manusia. Menyangkal kebebasan dari kemauan manusia berarti meniadakan kesusilaan dari tindakannya.
Rousseau ingin menjauhkan anak dari segala keburukan masyarakat yang serba dibuat-biat, sehingga kebaikan anak-anak yang dimiliki secara alamiah sejak saat kelahiran dapat berkembang secara spontan dan bebas. Pendidikan menurut Rousseau, harus dapat menjauhkan anak dari segala yang bersifat dibuat-buat dan dapat membawa anak kembali pada alam untuk memepertahankan segala yang baik sebagaimana yang telah diberikan oleh Yang Maha Pencipta. Rousseau mengiginkan dikembangkannya aturan masyarakat yang demokratis, sehingga kecenderungan alamiah anggota masyarakat dapat terwujud sebagaimana adanya. Suatu bentuk pendidikan tertentu perlu diselenggarakan untuk menjaga agar perwujudan alamiah tersebut tidak dirugikan.
Rousseau sebagai tokoh naturalisme, menegakkan pada self activity, freedom,  dan self expression. Anak pada hakikatnya adalah baik, dan alam juga baik, namun masyarakatlah yang menjadikan anak tidak baik. Pendidikan mengutamakan minat dan kebutuhan anak. Oleh karena itu, program pendidikan akan diorganisasi sekitar dan sesuai dengan minat serta kebutuhan anak.
Pandangan progresivisme tentang realitas, seperti halnya dengan John Dewey, bahwa “perubahan” dan “ketidak tetapan” merupakan esensi dari realitas. Menurut progresivisme , pendidikan selalu dalam prose perkembangan, penekanannya adalah perkembangan individu, masyarakat, dan kebudayaan. Pendidikan harus siapmemperbaharui metode, kebijaksanaannya, berhubungan dengan perkembangan sains dan teknologi, serta perubahan lingkungan.
Untuk memperoleh pengetahuan yang benar, kaum progresif sepakat dengan pandangan Dewey, yaittu menekankan pengalaman indera, belajar sambil bekerja, dan mengembangkan intelegensi, sehingga anak dapat menemukan dan memecahkan masalah yang dihadapi.
Kualitas atau hasil dari pendidikan, tidak ditentukan dengan menentukan atau menetapkan suatu ukuran yang berlaku secara mutlak dan abadi. Norma atau nilai kebenaran yang abadi tidak dapat dijadikan ukuran untuk menentukan berhasil tidaknya usaha pendidikan. Pendidikan dapat diartikan sebagai suatu rekonstruksi pengalaman yang berlangsung secara terus-menerus.
1)      Perhatian terhadap anak
Proses belajar berpusat pada anak, namun hal ini tidak berarti bahwa anak diizinkan untuk mengikuti semua keinginannya, karena ia belum cukup matang untuk menentukan tujuan yang memadai. Anak memang banyak berbuat dalam menentukan proses belajar, namun ia bukan penentu akhir. Siswa membutuhkan bimbingan dan arahan dari guru dalam melaksanakan aktivitasnya.
Pengalaman anak adalah rekonstruksi yang terus-menerus dari keinginan dan kepentingan pribadi. Mereka aktif bergerak untuk mendapatkan isi mata pelajaran yang logis. Guru mempengaruhi pertumbuhan siswa, tidak dengan menjejalkan informasi kedalam kepala anak, malainkan dengan pengawasan lingkungan dimana pendidikan berlangsung. Pertumbuhan diartikan sebagai peningkatan intelegensi dalam pengelolaan hidup dan adaptasi yang intelegen (cerdas) terhadap lingkungan.
2)      Tujuan pendidikan
Sekolah merupakan masyarakat demokratis dalam ukuran kecil, dimana siswa akan belajar dan praktik keterampilan yang dibutuhkan untuk hidup dalam demokrasi. Dengan pegalamannya, siswa akan mampu menghadapi perubahan dunia. Karena relitas berubah terus menerus. Kaum progresif menekankan “ bagaiamana berfikir”, bukan “ apa yang dipikirkan”.
Tujuan pendidikan adalah memberikan keterampilan dan alat-alat yang bermanfaat untuk berinteraksi dengan lingkungan yang berada dalam proses perubahan secara terus-menerus. Yang dimaksud dengan alat-alat adalah keterampilan pemecahan masalah (problem solving) yang dapat digunakan oleh indifidu untuk menentukan, menganalisis, dan memecahkan masalah. Proses belajar terpusatkan pada perilaku cooperative dan disiplin diri. Dimana kebudayaan sangat dibutuhkan dan sangat berfungsi dalam masyarakat.
3)      Pandangan tentang belajar
Kaum progresif menolak pandangan bahwa belajar secara esensial merupakan penerimaan pengetahuan sebagai suatu subtansi abstrak yang diisikan oleh guru kedalam jiwa anak. Pengetahuan menurut pandangan progresif merupakan alat untuk mengatur pengalaman, untuk menangani situasi baru secara terus-menerus, dimana perubahan hidup merupakan tantangan dihadapan manusia.
Manusia harus dapat berbuat dengan pengetahuan. Oleh karena itu, pengetahuan harus bersumber pada pengalaman. Menurut Dewey kitag harus mempelajari apa saja dari sains eksperimental. Penelusuran pengetahuan abstrak harus diartikan kedalam pengalaman pendidikan yang aktif. Apabila siswa menghasilkan suatu apresiasi yang nyata yang berkaitan dengan ide-ide politik dan sosial, kelas (sekolah) itu sendiri harus menjadi eksperimen kehidupan dalam demokrasi sosial. Pengalaman dan eksperimen merupakan kata-kata kunci dalam kegiatan belajar mengajar.
Dewey tidak menolak isi kurikulum tradisional. Sebaliknya kurikulum tersebut perlu dipelihara dan dikuasai. Selanjutnya Dewey mengatakan bahwa yang perlu diingat adalah materi pelajaran atau isi pelajaran selalu berubah terus-menerus sesuai dengan perubahan yang berlaku dlaam lingkungannya. Oleh karena itu, pendidikan tidak dibatasi hanya pada sekedar pengumpulan informasi dari guru-guru atau dari text book saja. Belajar bukan penerimaan dan penerapan terhadap pengetahuan terdahulu yang telah ada, melainkan suatu rekonstruksi yang terus-menerus sesuai dengan penemuan-penemuan baru. Oleh karena itu, pemecahan masalah (dengan metode ilmiah), harus dilihat bukan hanya dari skedar penyelididkan pengetahuan fungsional, melainkan sebagai suatu kaitan yang secara terus-menerus dengan subject matter.
4)      Kurikulum dan peranan guru
Kurikulum disusun sekitar pengalaman siswa, baik pengalaman pribadi maupun pengalaman sosial. Sains sosial sering dijadikan pusat pelajaran yang digunakan dalam pengalaman-pengalaman siswa, dan dalam pemecahan masalah serta dalam kegiatan proyek. Pemecahan masalah akan melibatkan kemampuan berkomunikasi, proses matematis, dan penelitian ilmiah. Oleh karena itu, kurikulum seharusnya menggunakan pendekatan interdisipliner. Buku merupakan alat dalam proses belajar, bukan sumber pengetahuan. Metode yang dipergunakan adalah metode ilmiah dalam inkuiri dan problem solving.
Peran guru adlaah membimbing siswa-siswa dalam kegiatan pemecahan masalah dan kegiatan proyek, dan guru harus menolong siswa dalam menentukan dan memilih masalah-masalah yang bermakna, menemukan sumber-sumber data yang relevan, menafsirkan dan menilai  akurasi data, serta merumuskan kesimpulan. Guru harus mampu mengenali siswa, terutama apakah pada saat apakah ia memerlukan bantuan khusus dalam suatu kegiatan, sehingga ia dapat meneruskan penelitiannya. Guru dituntut untuk sabar, fleksibel, berfikir interdisipliner, kreatikf dan cerdas.
5)      Prinsip-prinsip pendidikan
1.      Pendidikan adalah hidup itu sendiri, bukan persiapan untuk hidup kehidupan yang baik adalah kehidupan intelegen, yaitu kehidupan yang mencakup interpretasi dan rekonstruksi pengalaman. Anak akan memasuki situasi belajar yang disesuaikan dengan usianya dan berorientasi pada pengalaman.
2.      Pendidikan harus berhubungan secara langsung dengan minat anak, minat individu, yang dijadikan sebagai dasar motivasi belajar. Sekolah menjadi “child centered”, dimana proses belajar ditentukan terutama oleh anak. Secara kodrati anak suka belajar apa saja yang berhubungan dengan minatnya, atau untuk memecahkan masalahnya. Begitu pula pada dasarnya anak akan menolak apa yang dipaksakan kepada anaknya. Anak akan belajar dan mau belajar karena merasa perlu, tidak karena terpaksa oleh orang lain. Anak akan mampu melihat relevansi dari apa yang dipelajari terhadap kehidupannya.
3.      Belajar melalui pemecahan masalah akan menjadi presenden terhadap pemberian subjeck matter. Jadi, belajar harus dapat memecahkan masalah yang penting dan bermanfaatbagi kehidupan anak. Dalam memecahkan suatu masalah, anak dibawa berfikir melewati beberapa tahapan, yang disebut metode berfikir ilmiah, sebagai berikut:
a.       Anak mengahadapi keraguan, merasakan adanya masalah:
b.      Menganalisis masalah tersebut, dan menduga atau menyususn hipotesis-hipotesis yang mungkin:
c.       Mengumpulkan data yang akan membatasi dan memperjelas masalah:
d.      Memilih dan menganalisis hipotesis:
e.       Mencoba, menguji, dan membuktikan.
4.      Peranan guru tidak langsung, melainkan memberi petunjuk kepada siswa. Kebutuhan dan minat siswa akan menentukan apa yang mereka pelajari. Anak harus diizinkan untuk merencanakan perkembangan diri mereka sendiri, dan guru harus membimbing kegiatan belajar.
5.      Sekolah harus memberi semangat bekerja sama, bukan mengembangkan persaingan. Manuisa pada dasarnya sosial, dan keputusan yang paling besar pada manusisa karena ia berkomunikasi dengan yang lain. Progresivisme berpandangan bahwa kasih sayang dan persaudaraan lebih berharga bagi pendidikan dari pada persaingan dan usaha pribadi. Karena itu, pendidikan adalah rekonstruksi pengalaman, mengarah kepada rekonstruksi manusia dalam kehidupan sosial. Persaingan tidak ditolak, namun persaingan tersebut harus mampu mendorong pertumbuhan pribadi.
6.      Kehidupan yang demokratis merupakan kondisi yang diperlukan bagi pertumbuhan. Demokrasi, pertumbuhan, dan pendidikan saling berhubungan. Untuk mengajar demokrasi, sekolah sendiri harus demokratis. Sekolah harus meningkatkan “student goverment”, diskusi bebas tentang suatu masalah, partisipasi penuh dalam semua pengalaman pendidikan. Namun sekolah tidak mengindoktrinasi siswa-siswa dengan tata sosial yang baru.

3.      Poteret Guru Progresif
Pak Husen mengajar IPS disuatu sekolah menengah. Ia tampaknya bergaul baik dengan para siswa. Ia suka memberi siswa kebebasan memilih sebanyak mungkin di kelas. Karena itulah, ruangannya dibagi-bagi menjadi pusat-pusat minat dan aktivitas, dan para siswa bebas memilih dimana mereka ingin menghabiskan waktu mereka.
Pak Husen bermaksud membangun hubungan-hubungan yang hangat dan sportif dengan para siswa. Ia bangga terhadap fakta bahwa ia adalah teman para siswa mereka. Pengunjung kelas Pak Husen saat ini dapat merasakan penerimaannya yang jelas bagi siswa. Ia secara sungguh-sungguh peduli mengenai pertumbuhan dan pendidikan masing-masing siswa. Ketika para siswa mengahabiskan sebagian besar dari waktu mereka bekerja dalam kelompok-kelompok kecil pada beragam aktivitas yang berpusat pada ruangan tersebut, Pak Husen membagi waktunya diantara kelompok-kelompok itu.
Sebanyak mungkin ia membawa pengetahuan buku teks pada kehidupan dengan memberi para siswa pengalaman-pengalaman yang tepat seperti: kunjungan lapangan, proyek kelompok kecil, aktivitas simulasi, bermain peran, eksplorasi internet, dan sebagainya. Pak Husen percaya bahwa fungsi pokoknya sebagai seorang guru adalah mempersiapkan para siswanya untuk masa depan yang tidak dikenal. Ia merasa bahwa belajar memecahkan permasalahan pada usia dini adalah persiapan yang terbaik untuk masa depan ini.

KESIMPULAN


Dalam pendidikan progresivisme bahwa pendidikan harus terpusat pada anak bukannya memfokuskan pada guru. Guru harus menolong siswa dalam menentukan dan memilih masalah-masalah yang bermakna, menemukan sumber-sumber data yang relevan, menafsirkan dan menilai akurasi data, serta merumuskan kesimpulan.
Anak diberi kebebasan tentang pengetahuan atau kegiatan lainnya yang mereka nginkan, namun hal ini tidak berarti bahwa anak akan diizinkan untuk mengikuti semua keinginannya, karena ia belum cukup matang untuk menentukan tujuannya. Perlu ada bimbingan dari guru atau orangtua.
Tujuan pendidikan adalah memberikan keterampilan dan alat-alat yang bermanfaat untuk berinteraksi dengan lingkungan yang berbeda dalam proses perubahan secara terus menerus. Sekolah merupakan masyarakat demokratis dalam ukuran kecil, dimana siswa akan belajar dan praktik keterampilan yang dibutuhkan untuk hidup dalam demokrasi. Dengan pengalamannya, siswa akan mampu menghadapi perubahan dunia.

read more

A.    Sejarah dan Periodisasi Penghimpunan Hadis
Sejarah dan periodisasi penghimpunan hadis mengalami masa yang lebih panjang dibandingkan dengan yang dialami oleh Al-Qur’an, yang hanya memerlukan waktu relatif lebih pendek, yaitu sekitar 15 tahun saja. Yang dimaksud dengan periodisasi penghimpunan hadis disisni adalah: “Fase-fase yang telah ditempuh dan dialami dalam sejarah pembinaan dan pengembangan hadis, sejak Rasulullah SAW masih hidup sampai terwujudnya kitab-kitab yang dapat disaksikan dewasa ini.”
Mohamad Mustafa Azami, berkonsentrasi pada pengumpulan dan penulisan hadis pada abad pertama dan kedua hijriyah, yang dinamainya dengan Pra-Classical “Hadiith Literature”,membagi periodisasi penghimpunan hadis menjadi 4 Fase yaitu:
  1. Fase penghimpunan dan penulisan hadis oleh para sahabat
  2. Fase penghimpunan dan penulisan hadis oleh para Tabi’in di abad pertama Hijriyah.
  3. Fase penghimpunan dan penulisan hadis pada akhir abad pertama Hijriyah dan awal abad kedua Hijriyah.
  4. Fase pengumpulan dan penulisan hadis pada awal kedua Hijriyah.
Berbeda dengan Azami, Hasbi Ash-Shiddieqy cenderung mengikuti periodisasi perkembangan hadis sebagai mana yang dianut ole sebagian besar para ahli sejarah hadis.
B.     Hadis Pada Abad Pertama Hijriyah
Periode ini dapat dibagi menjadi dua fase yaitu:
1.      Hadis Pada Masa Rasulullah SAW
a.       Cara sahabat menerima hadis pada masa Rasulullah SAW
Hadis-hadis Nabi yang terhimpun didalam kitab-kitab hadis yang ada sekarang adalah hasil kesungguhan para sahabat dalam menerima dan memelihara hadis dimasa Nabi SAW dahulu.
Ada empat cara yang ditempuh para sahabat untuk mendapatkan hadis Nabi SAW yaitu:
·         Mendatangi majelis-majelis taklim yang diadakan Rasul SAW.
·         Kadang-kadang Rasulul SAW sendiri menghadapi beberapa peristiwa tertentu, kemudian beliau menjelaskan hukumnya kepada para sahabat.
·         Kadang-kadang terjadi sejumlah peristiwa pada diri para sahabat, kemudian mereka menanyakan hukumnya kepada Rasulullah SAW dan Rasulullah SAW memberi fatwa atau penjelasan hukum tentang peristiwa tersebut.
·         Kadang-kadang para sahabat menyaksikan Rasulullah SAW melakukan sesuatu perbuatan dan sering kali yang berkaitan dengan tatacara pelaksanaan ibadah, seperti shalat, puasa zakat, haji dan lainnya.
b.      Penulisan hadis pada masa Rasululah SAW
Setelah Islam trun, kegiatan membaca dan menulis ini semakin lebih digiatkan dan digalakan, hal ini terutama adalah karena diantara tuntutan yang pertama diturunkan Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW melalui wahyunya adalah perintah membaca dan belajar menulis ( QS. AL-Alaq [96]:1-5)
1)      Larangan menulis Hadis
Terdapat sejumlah hadis Nabi SAW yang melarang para sahabat menuliskan hadis. Hadis yang mereka dengar atau peroleh dari Nabi SAW. Hadis-hadis tersebut adalah: Dari Abi Sa’id al-Kurdi, bahwasanya Rasul SAW bersabda, “ Janganlah kamu menuliskan sesuatu dariku, dan siapa yang menulisan sesuatu dariku selain Al-Qur’an maka hendaklah ia menghapusnya”. (HR. Muslim)
2)      Perintah (kebolehan) menuliskan Hadis
Hadis-hadis Nabi Muhammad SAW yang memerintahkan atau membolehkan menuliskan hadis adalah: Hadis Annas Ibn Malik
 Dari Anas Ibn Malik bahwa dia berkata, Rasullullah SAW bersabda: “ Ikatlah ilmu itu dengan tulisan (menuliskannya).
3)      Sikap para ulama dalam menghadapi kontroversi Hadis-hadis mengenai penulisan hadis.
c.       Faktor-faktor yang menjamin kesinambungan hadis sejak masa Nabi SAW, yaitu:
v  Quwwat al-dzakirah
v  Kehati-hatian para sahabat dalam meriwayatkan hadis dari Rasulullah SAW.
v  Pemahaman terhadap ayat
2.      Hadis Pada Masa Sahabat dan Tabi’in
a.       Pengertian Sahabat dan Tabi’in
Kata sahabat (arabnya: sahabat ) menurut bahasa adalah Musytaq (pecahan) dari kata shuhbah yang berarti orang yang menemani yang lain, tanpa ada balasan waktu dan jumlah. Sedangkan pengertian Tabi’in adalah orang yang pernah berjumpa dengan sahabat dan dalam keadaan beriman, serta meninggal dalam keadaan beriman juga.
b.      Pemeliharaan Hadis Pada Masa Sahabat dan Tabi’in
Dalam periode Abu Bakar al-Shiddiq dan Umar Ibn al-Khatab, periwayatan hadis dilakukan dengan cara yang ketat dan sangat hati-hati. Hal ini terlihat dari cara mereka menerima hadis.
c.       Masa Penyebarluasan Periwayatan Hadis
Wilayah kekuasaan Islam pada periode Utsman telah meliputi seluruh jazirah Arabia, wilayah Syam (Palestina, Yordania, Siria, dan Libanon), seluruh kawasan Irak, Mesir, Persia, dan kawasan Sanarkand. Dengan tersebarnya para sahabat kedaerah-daerah disertai dengan semangat menyebarkan agama Islam, maka tersebar pulalah hadis-hadis Nabi SAW yang baik dalam hafalan maupun tulisan. 
d.      Penulisan Hadis Pada Masa Sahabat dan Tabi’in
Kegiatan penulisan hadis pada masa Rasul SAW bagi mereka yang diberi kelonggaran oleh Rasul SAW  untuk melakukannya, namun para sahabat, pada umumnya menahan diri dari melakukan penulisan hadis dimasa pemerintahan Khulafa al-Rasidin. Hal tersebut adalah karena besarnya keinginan mereka untuk menyelamatkan Al-Qur’an Al- Karim dan sekaligus Sunah (Hadis), dari pernyataan Umar, terlihat bahwa penolakannya terhadap penulisan hadis adalah disebabkan adanya kekhawatiran berpalingnya umat Islam untuk menuliskan suatu yang lain selain Al-Qur’an dan melontarkan kitab Allah (Al-Qur’an). Justru itu dia melarang umat Islam untuk menuliskan sesuatu yang lain dari Al-Qur’an, termasuk hadis.
Akan halnya Tabi’in, sikap mereka dalam hal penulisan hadis adalah mengikuti jejak para sahabat. Hal ini tidak lain adalah karena para Tabi’in memperoleh ilmu, termasuk didalamnya hadis-hadis Nabi SAW adalah dari para sahabat.
C.    Hadis Pada Abad Ke-2 Hijriyah (masa penulisan dan pembukuan hadis secara resmi)
Pada periode ini hadis-hadis Nabi SAW mulai ditulis dan dikumpulkan secara resmi ‘Umar ibn ‘Abd al-Aziz, salah seorang khalifah dari dinasti Umayah yang mulai memerintah dipenghujung abad pertama Hijriyah, merasa perlu untuk mengambil langkah-langkah bagi penghimpunan dan penulisan hadis Nabi secara resmi, yang selama ini berserakan didalam catatan dan hafalan para sahabat dan Tabi’in.
1.      Faktor-faktor yang mendorong pengumpulan dan pengkondifikasian hadis
2.      Pemrakarsa pengkondifikasian hadis secara resmi dari pemerintah
3.      Pelaksanaan kondifikasi hadis atas perintah ‘Umar ibn ‘Abd al-Aziz
4.      Kitab-kitab Hadis pada abad Ke-2 Hijriyah
5.      Ciri dan sistem pembukuan hadis pada abad Ke-2 Hijriyah
6.      Perkembangan hadis palsu dan gerakan ingkar sunnah.
D.    Hadis Pada Abad Ke-3 Hijriyah (masa pemurnian dan penyempurnaannya)
Pada periode ini para ulama hadis memusatkan perhatian mereka pada pemeliharaan keberadaan dan terutama kemurnian hadis-hadis Nabi SAW, sebagai antisipasi mereka terhadap kegiatan pemalsuan hadis yang semakin marak.
1.      Kegiatan Pemalsuan Hadis
Penciptaan hadis-hadis palsu tidak hanya dilakukan oleh mereka yang panatik mazhab, tetapi momentum pertentangan mazhab, tersebut juga dimanfaatkan oleh kaum zindik yang sangat memusuhi Islam, untuk menciptakan hadis-hadis palsu dalam rangka merusak ajaran Islam dan menyesatkan kaum muslimin.
2.      Upaya melestarikan Hadis
Diantara kegiatan dalam rangka memelihara kemurnian Hadis Nabi SAW  adalah:
Ø  Perlawanan kedaerah-daerah
Ø  Mengklasifikasi hadis kepada: Marfu, Maukuf, Maqthu.
Ø  Menyeleksi kualitas hadis dan pengklasifikasiannya kepada: Shahih, Hasan, dan Dha’if
3.      Bentuk penyusunan hadis pada abad Ke-3 Hijriyah.
Ada tiga bentuk penyusunan hadis pada periode ini yaitu: Kitab Shahih, kitab Sunan, dan kitab Musnad
E.     Hadis Pada Abad Ke-4 Sampai Ke-7 Hijriyah (masa pemeliharaan, penertiban, penambahan dan penghimpunannya)
1.      Kegiatan periwayatan hadis pada periode ini
2.      Bentuk penyususnan kitab hadis pada periode ini
F.     Keadaan Hadis Pada Pertengahan Abad Ke-7 Hijriyah Sampai Sekarang (masa pensyarahan, penghimpunan, pen-takhrijan, dan pembahasannya)
1.      Kegiatan periwayatan hadis pada periode ini
Kegiatan periwayatan hadis pada periode ini lebih banyak dilakukan dengan cara ijazah dan mukatabah.
2.      Bentuk penyususnan kitab hadis pada periode ini
Jenis karya kitab-kitab hadis, sebagai berikut:
Kitab Syarah, Mukhtasor, Zawa’id, penunjuk Hadis, Takhrij, Jami’, dan kitab yang membahas masalah tertentu, seperti masalah hukum.

read more

BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Dalam kegiatan pembelajaran kegiatan yang paling penting adalah melakukan tes, karena dengan melakukan tes, seorang guru dapat mengetahui sejauh mana kemampuan siswa dalam memahami materi yang telah dipelajari.
Dalam penyusunan soal-soal tes terkadang guru mengalami kesulitan, karena dalam pembuatan soal tersebut diperlukan berbagai pertimbangan agar soal yang dibuat tidak terlalu sulit, terlalu mudah dan emmbingungkan peserta didik ketika hendak menjawab soal-soal tersebut.
Dalam penyususnan tes prestasi hal yang paling penting yang harus dimiliki yaitu validitas soal-soal yang akan diujikan kepada peserta didik. Untuk memudahkan guru dalam penyusunan tes maka diperlukan pembuatan kisi-kisi (tabel spesifikasi).
B.     Rumusan Masalah
Dalam pembuatan makalah ini kami membatasinya kepada beberapa pertanyaan yaitu:
1.      Apa fungsi tabel spesifikasi?
2.      Bagaimana langkah-langkah pembuatannya?
3.      Bagaimana tindak lanjut setelah penyususnan tabel spesifikasi?
C.    Tujuan
Tujuan dari pembuatan makalah ini adalah untuk:
1.      Mengetahui fungsi tabel spesifikasi
2.      Mengetahui langkah-langkah pembuatan tabel spesifikasi
3.      Mengetahui tindak lanjut setelah penyusunan tabel spesifikasi


BAB II
PEMBUATAN KISI-KISI (TABEL SPESIFIKASI)

A.    Fungsi Tabel Spesifikasi
Tabel spesifikasi emmbantu guru dalam mengadakan penilaian terhadap murid-muridnya juga berguna untuk dirinya sendiri supaya lebih profesional dalam menyusun tes.
Untuk menjaga agar tes yang kita susun tidak menyimpang dari bahan (materi) serta aspek kejiwaan (tingkah laku) yang akan dicakupi dalam tes, dibuatlah tabel spesifikasi.
Tabel spesifikasi dapat disebut juga sebagai grid, kisi-kisi atau blueprint. Ujudnya adalah sebuah tabel yang memuat tentang perperincian materi dan tingkah laku beserta imbangan/proporsi yang dikehendaki oleh penilai. Tiap kotak diisi dengan bilangan yang menunjukkan jumlah soal (Suhasimi, 2007:185).
Contoh:
         Aspek yang diungkap
Pokok Materi
Ingatan
(I)
Pemahaman
(P)
Aplikasi
(A)
Jumlah
Bagian I
Bagian II
Bagian n(terakhir)
............
............
............
................
.................
.................
.............
.............
.............
.............
............
............
Jumlah
...........
................
..............
............

Tabel spesifikasi mempunyai kolom dan baris, sehingga tampak hubungan antara materi dengan aspek yang tergambar dalam TIK. Sebenarnya penyusunan tes bukan hanya mengingat hubungan antara dua hal tersebut tetapi empat hal yaitu hubungan antara materi, TIK, kegiatan belajar, dan evaluasi.
Contoh kaitan antara TIK, materi, kegiatan belajar mengajar dan evaluasi adalah sebagai berikut:
TIK/TPK              : Siswa dapat melaksanakan jual beli menurut agama islam
Materi                   : Syarat dan rukun jual-beli
KBM                    : Informasi dan tanya jawab tentang jual beli
evaluasi                : Jual beli dengan tidak memperlihatkan barangnya maka
                               hukumnya?
A.    Sah                C. Mubah
B.     Tidak sah       D. Rusak

B.     Langkah-langkah Pembuatan Tabel Spesifikasi
Dalam pembuatan tabel spesifikasi ini langkah pertama yang harus dilakukan adalah mendaftar pokok-pokok materi yang akan di teskan kemudian memberikan imbangan bobot untuk masing-masing pokok materi.
Contoh:
     Akan membuat tes untuk evaluasi. Pokok-pokok materinya adalah;
a.       Pengertian                                          (2)
b.      Fungsi Efaluasi                                   (3)
c.       Macam-macam cara evaluasi             (5)
d.      Persyaratan evaluasi                           (4)
Angka-angka yang tertera dalam kurung merupakan imbangan bobot untuk masing-masing pokok materi. Langkah kedua yaitu memindahkan pokok-pokok materi ke dalam tabel dan mengubah indeks menjadi persentase.
TABEL SPESIFIKASI UNTUK MENYUSUN SOAL EVALUASI
         Aspek yang diungkap
Pokok materi
Ingatan
pemahaman
Aplikasi
Jumlah
Pengertian evaluasi (14%)



7
Fungsi evaluasi (20%)



10
Macam-macam cara evaluasi (36%)



18
Persyaratan evaluasi (30%)



15
Jumlah



50 butir soal

Langkah ketiga yaitu merinci banyaknya butir soal untuk tiap pokok-pokok materi, dan angka ini ditulis pada kolom paling kanan. Caranya yaitu dengan membagi jumlah butir soal (disini ada 50 buah) menjadi 4 bagian berdasarkan imbangan bobot yang tertera sebagai persentase.
Dalam contoh ini dimisalkan akan disusun tes berbentuk obyektif dengan jumlah 50 butir soal berbentuk pilihan ganda, karena waktu yang disediakan adalah 75 menit, maka sebagai ancar-ancar waktu adalah bahwa untuk mengerjakan satu buah soal tes objektif membutuhkan waktu 1 menit untuk membaca dan menjawabnya sehingga jika disediakan waktu 75 menit untuk tes, maka dapat disusun butir soal sejumlah: 50 buah soal berbentuk objektif (50 menit), dan 5 buah soal berbentuk uraian (25 menit). Jadi banyaknya butir soal sangat ditentukan oleh waktu yang tersedia dan bentuk soal.
1.      Langkah pembuatan tabel spesifikasi untuk materi yang seragam
Yang dimaksud “seragam” disini adalah bahwa antara pokok materi yang satu dengan pokok materi yang lain mempunyai kesamaan dalam imbangan aspek tingkah laku. Misalnya 50% untuk ingatan, 30% untuk pemahaman, dan 20% untuk aplikasi. Selanjutnya banyaknya butir soal untuk setiap sel (kotak kecil) diperoleh dengan cara menghitung persentase dari banyaknya soal bagi tiap pokok materi yang sudah tertulis di kolom paling kanan.
Contoh Tabel Spesifikasi Penyusunan Tes Evaluasi
              Aspek yang diukur
Pokok materi
Ingatan
(50%)
Pemahaman
(30%)
Aplikasi
(20%)
Jumlah
(100%)
Pengertian evaluasi (14%)
(A)
(B)
(C)
7
Fungsi evaluasi (20%)
(D)
(E)
(F)
10
Macam-macam cara evaluasi (36%)
(G)
(H)
(I)
18
Persyaratan evaluasi (30%)
(J)
(K)
(L)
15
Jumlah



50

Untuk mengisi/menentukan banyaknya butir soal untuk tiap sel adalah sebagai berikut:
Sel A = 50 % x 7 soal = 3,5 (4 soal)        
Sel B = 30%  x 7 soal = 2,1 (2 soal)
Sel C = 20%  x 7 soal = 1,4 (1 soal)
Untuk memgisi sel-sel yang lain, dilakukan dengan cara yang sama seperti hal nya mengisi sel A, B, dan C.
Disamping menggunakan cara seperti diatas, dalam menentukan jumlah butir soal untuk tiap-tiap pokok materi, ada lagi cara lain yang dapat diambil yaitu mulai dari pengisian sel-sel kemudian baru diperoleh jumlah soal tiap pokok materi.
2.      Langkah pembuatan tabel spesifikasi untuk materi yang tidak seragam
Untuk membuat tabel spesifikasi pokok-pokok materi yang tidak seragam, tidak perlu mencantumkan angka persentase imbangan tingkah laku di kepala kolom. Pemberian imbangan dilakukan tiap pokok materi didasarkan atas banyaknya soal untuk pokok materi itu dan imbangan yang dikehendaki oleh penilaian menurut sifat pokok materi yang bersangkutan.
Contoh
TABEL SPESIFIKASI UNTUK PENYUSUNAN TES EVALUASI
       Aspek yang diukur
Pokok materi
Ingatan
(I)
Pemahaman
(P)
Aplikasi
(A)
Jumlah
Bab 1 (40%)
(A)
(B)
(C)
10
Bab 2 (30%)
(D)
(E)
(F)
16
Bab 3 (30%)
(G)
(H)
(I)
14
Jumlah (100%)



40
    
Dalam keadaan seperti dicontohkan misalnya: BAB I mayoritas hafalan, BAB 2 mayoritas pemahaman, BAB 3 mayoritas aplikasi. Maka imbangan aspek tingkah laku, tidak dituliskan pada kepala kolom. Penentuan angka yang menunjukkan banyaknya butir soal pada tiap sel, ditentukan per BAB. Misalnya: untuk Bab I, Ingatan 60%, pemahaman 30%, aplikasi 10%, maka:
Sel A = 60% x 10 soal = 6 soal
Sel B = 30% x 10 soal = 3 soal
Sel C = 10% x 10 soal = 1 soal
Untuk Bab 2, ingatan 20%, pemahaman 50%, aplikasi 30%, maka:
Sel D = 20% x 16 soal = 3 soal
Sel E = 50% x 16 soal = 8 soal
Sel F = 30% x 16 soal = 5 soal
Untuk Bab 3, ingatan 20%, pemahaman 20%, aplikasi 60%, maka:
Sel G = 20% x 14 soal = 3 soal
Sel H = 20% x 14 soal = 3 soal
Sel I  = 60% x 14 soal = 6 soal

C.    Tindak Lanjut Sesudah Penyusunan Tabel Spesifikasi
Terdapat dua langkah lagi sebagai tindak lanjut sesudah penyususnan tabel spesifikasi untuk emmperoleh seperangkat soal tes yaitu:
a.       Memnentukan bentuk soal. Ada dua hal yang harus dipertimbangkan dalam menentukan bentuk soal yaitu waktu yang tersedia dan sifat materi yang diteskan.
b.      Menuliskan soal-soal. Langkah terakhir dalam penyusunan tes adalah penulisan soal-soal tes (item writing). Langkah ini merupakan langkah penting karena kegagalan dalam hal ini dapat berakibat fatal. Hal-hal yang harus diperhatikan dalam menuliskan soal-soal tes yaitu:
1)      Bahasanya harus sederhana dan mudah dipahami.
2)      Suatu soal tidak boleh mengandung penafsiran ganda/membingungkan.
3)      Crar mengenal kalimat atau meletakkan/menata kata-kata perlu diperhatikan agar tidak ditafsirkan salah.
4)      Petunjuk mengerjakan. Petunjuk ini harus dituliskan sedemikian rupa sehingga jelas, dan siswa tidak bekerja menyimpang dri yang dikehendaki guru.
Untuk memperoleh sebuah tes yang standar, harus dilakukan uji coba (try out) berkali-kali sehingga diperoleh soal-soal yang baik. Dengan mengadakan uji coba terhadap soal-soal tes yang sudah disusun, maka akan memperoleh manfaat yaitu: pengalaman menggunakan tes tersebut, mengetahui kesukaran bahasa, mengetahui variasi jawaban siswa, mengetahui waktu yang dibutuhkan, dan lain-lain.


BAB III
KESIMPULAN

Guru yang baik selalu akan meningkatkan mutu tes yang di gunakan. Oleh karena menyusun tes itu sukar maka mereka disarankan untuk mengumpulkan soal-soal tesnya, dan disertai dengan catatan-catatan mengenai butir-butir mana yang terlalu mudah, terlalu sukar, atau membingungkan. Dengan cara demikian maka keterampilan guru dalam menyusun tes akan meningkat, dan akan diperoleh sekumpulan tes yang mutunya bukan lagi yang paling bawah. Penyusunan tes yang disertai dengan melalui tabel spesifikasi dapat dijamin bahwa tesnya cukup mempunyai validitas isi dan validitas tingkah laku.


DAFTAR PUSTAKA


Arikunto Suharsimi, 2007, Evaluasi Pendidikan, Jakarta: Bumi Aksara
Sulistyorini, 2009, Evaluasi Pendidikan, Yogyakarta: Teras


read more